Turki Abductions, Penjarahan Islandia Oleh Bajak Laut Turki

Pasar budak di Algiers, tempat kebanyakan dari tawanan Turki Abductions dijual sebagai budak.
Pasar budak di Algiers, tempat kebanyakan dari tawanan dijual sebagai budak. (Sumber: Wikimedia Commons)

Peristiwa ini mungkin jarang terdengar oleh kita, entah karena minimnya referensi atau alasan lainnya. Namun, bagi warga Islandia, serangkaian penjarahan yang terjadi pada musim panas 1627―yang mereka sebut “Tyrkjaránið “ atau “Turki Abductions”―merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah mereka. 

Para pelaku penjarahan ini adalah para bajak laut Afrika Utara yang terdiri dari dua kelompok, yang pertama berasal dari kota-kota di pesisir utara Aljazair sedangkan kelompok kedua berasal negara-kota Republik Salé (sekarang merupakan kota Salé, Maroko). Pemimpin peristiwa ini adalah Jan Janszoon van Haarlem atau Murat Reis, orang Belanda yang masuk Islam setelah ditangkap oleh Muslim Andalusia. 

Hebatnya dan entah bagaimana caranya, mereka bisa berlayar hampir sejauh 4900 Km pulang-pergi menerjang Samudra Atlantik dari Mediterania untuk menuju Islandia. Dalam peristiwa Penjarahan ini, sekitar 50 orang tewas dan hampir 400 orang ditangkap dan dijual di pasar budak di Afrika.  9 hingga 18 tahun kemudian, uang tebusan akhirnya dibayar untuk membebaskan setidaknya 50 orang.

Peristiwa ini disebut “Turki Abductions” karena merujuk kepada kepada orang-orang muslim pada abad 15-17 yang berada dibawah Turki Utsmaniyyah. Walau demikian, penjarahan ini tidak ada kaitannya ataupun mendapatkan izin dari Khalifah Utsmaniyyah, sehingga tidak ada unsur keagamaan maupun kenegaraan dalam peristiwa ini. Dengan kata lain, mereka hanyalah bajak laut yang merompak untuk keuntungannya sendiri.

Pada 20 Juni 1627, para perompak dari Salé menyerang Grindavik dan menangkap sekitar 12-15 orang Denmark dan Belanda, serta tidak lupa menjarah rumah-rumah warga. Setelah itu mereka berlayar ke rumah gubernur Uni Denmark-Norwegia di Islandia. Pada waktu itu, Islandia sedang dibawah kekuasaan Uni Denmark-Norwegia. Mereka menyerbu rumah gubernur, tetapi tidak berhasil akibat digagalkan oleh tembakan meriam yang berasal dari benteng lokal (Bessastaðaskans). Meski demikian, 2 orang tewas karena peristiwa pada hari itu.

Kelompok perampok kedua berasal dari Algiers. Mereka menjarah di East Fjords dari tanggal 5–13 Juli 1627. Mereka menyergap sebuah kapal dagang Denmark dan menenggelamkannya. Meski kapal tersebut ditenggelamkan, para awak kapal berhasill ditawan. Selain itu, sebanyak 110 orang Islandia ditangkap, harta benda dan hewan ternak mereka pun juga dibawa dibawa oleh perompak. Saat berada disekitar Fáskrúðsfjörður, para perompak diterjang angin kencang sehingga mereka memilih melewati pesisir selatan Islandia. Dan lagi-lagi, mereka menangkap kapal nelayan Inggris yang kebetulan melintas.

Tidak ada pelabuhan tempat untuk mendarat di pesisir selatan Islandia pada waktu itu sehingga pada 16 Juli 1627 mereka menuju Vestmannaeyjar, kepulauan di lepas laut Islandia. Mereka menjarah desa selama tiga hari. Terdapat 234 orang yang ditawan dan 34 orang yang dibunuh. Ólafur Egilsson, pemimpin desa juga ditawan dan dibawa ke Algiers. Namun setelah mengumpumpulkan uang, Ólafur Egilsson dapat meninggalkan Algiers dan berpetualang dari Afrika dan sampai ke Kopenhagen melalui daratan Eropa.

Di Afrika, para tawanan diperlakukan berbeda-beda oleh setiap majikannya. Banyak dari mereka yang akhirnya masuk Islam. Guttormur Hallsson, seorang tawanan, berkata dalam sebuah surat yang ditulisnya pada tahun 1631: “Ada perbedaan besar di sini antara majikan. Beberapa budak tawanan mendapatkan yang baik, lembut. Tetapi beberapa tawanan yang malang mendapati diri mereka diperlakukan dengan biadab, dan mendapat majikan tiran yang kejam dan keras hati, yang tidak pernah berhenti memperlakukan mereka dengan buruk, dan yang memaksa mereka untuk bekerja dan bekerja keras dengan pakaian minim dan sedikit makanan, terikat dengan belenggu besi, dari pagi sampai malam.” 

Tebusan besar pertama dibayarkan sembilan tahun setelah penculikan ketika 34 orang Islandia dibawa dari Algiers. Enam tewas dalam perjalanan pulang, satu ditinggalkan di Glückstadt. Beberapa lainnya berhasil kembali dengan menggunakan cara lainnya. Pada 1645, uang tebusan dibayarkan untuk 8 orang tambahan, yang berhasil kembali ke Kopenhagen. Secara total, 50 orang mendapatkan kebebasannya, tetapi tidak semua kembali ke Islandia.

Tawanan dari peristiwa Turki Abductions yang paling terkenal adalah Guðríður Símonardóttir. Dia akhirnya kembali ke Islandia dan kemudian menikah dengan Hallgrímur Pétursson, salah satu penyair paling terkenal di Islandia.

Sumber :

  • Wikipedia contributors. (2021, July 24). Turkish Abductions. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Turkish_Abductions
  • Helgason, Þ. (2006, March 28). Hvaða heimildir eru til um Tyrkjaránið? Vísindavefurinn. https://www.visindavefur.is/svar.php?id=5738
  • Helgason, Þ. (2006, April 3). Hverjir stÃ3ðu raunverulega að Tyrkjaráninu? Vísindavefurinn. https://www.visindavefur.is/svar.php?id=5770
  • Helgason, Þ. (2006a, March 29). Hvað gerðist í Tyrkjaráninu? Vísindavefurinn. https://www.visindavefur.is/svar.php?id=5743
Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post
Piramida Meroë

Meroë dan Piramida Peninggalan Ibu Kota Nubia Kush

Next Post
Peperangan antara kapal Inggris dengan Barbary corsairs (privateer)

Privateer, ‘Bajak Laut’ Legal yang Diberi Izin Oleh Negara

Related Posts
Total
0
Share