Rakyat Sanga-Sanga pada Peristiwa Merah Putih

Ilustrasi Perlawanan Rakyat Sanga-Sanga pada Peristiwa Merah Putih di Museum

Sanga-Sanga adalah sebuah kota kecamatan yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Seperti kebanyakan kota dan wilayah di Kalimantan Timur, minyak dengan mudah dapat ditemukan, bahkan dengan persediaan yang melimpah. Sebelumnya Sanga-Sanga belum terlalu dikenal oleh insinyur pertambangan belanda, hingga ketika para insinyur pertambangan Belanda melakukan penelitian di Sanga-Sanga. Hasilnya tentu tidak mengecewakan, mereka menemukan banyak cadangan minyak di Sanga-Sanga.

Setelah mengetahui Sanga-Sanga memiliki cadangan minyak yang melimpah, mereka mengajukan izin kepada penguasa setempat. Mereka meminta izin -dalam hal ini- kepada Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan dari Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martapura selaku pemilik wilayah tersebut.

Sultan kemudian menandatangani konsesi pada 1887 (Concesie Matilde). Ir. J. H Menten dan perusahaannya, Nederlandse Industrie En Handil Maatschapi kemudian mulai melakukan eksplorasi di sumur Matilde, tentunya dengan mengantongi izin konsesi tadi.

Pengeboran Minyak di Sungai di Sanga Sanga
Pengeboran Minyak di Sanga-Sanga. (Tropenmuseum, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia)

Hingga saat 20 Februari 1897, Sumur minyak Matilde mengeluarkan minyak mentah untuk pertama kalinya. Peristiwa ini merupakan hal yang penting bagi rakyat Sanga-Sanga. Produksi minyak dari sumur Matilde dianggap sebagai hari lahirnya daerah Sanga-Sanga. Dan hal itu pula yang menyebabkan Belanda memiliki ambisi untuk menguasainya. Banyak sumur minyak kemudian dibangun, dengan tujuan mengeksploitasi kekayaan alamnya yang akan digunakan untuk kepentingan Pemerintah Hindia Belanda.

Perang Dunia ke-2

1 Juli 1945, pasukan sekutu melancarkan operasi Oboe 2. Operasi ini merupakan salah satu dari total 6 operasi militer yang dilakukan oleh sekutu dalam rangka menekan dominasi Jepang di Asia Pasifik. Operasi Oboe 2 dimulai dari pendaratan armada sekutu di Balikpapan, selaku kota minyak yang letaknya terbilang strategis. Sekutu juga melakukan pendaratan di beberapa wilayah di Kalimantan Timur. Sanga-Sanga juga termasuk salah satu sasaran utama sekutu.

Peta Operasi Militer Di Kalimantan (MacArthur’s General Staff, Public Domain, via Wikipedia)

Sekutu kemudian berhasil menguasai kota-kota yang ada di Kalimantan Timur, terutama kota-kota penghasil minyak. Dengan berhasilnya menguasai pasokan minyak, pasukan sekutu mempunyai potensi untuk melakukan operasi untuk menekan tentara Jepang.

Pendaratan Sekutu di Indonesia ternyata tidak hanya bertujuan untuk menekan deminasi Jepang di Asia Pasifik. Tentara Belanda (NICA) ternyata juga memiliki tujuan tersembunyi, yaitu untuk menjajah kembali wilayah Indonesia.

Setelah Kemerdekaan

Ketika jepang bertekuk lutut kepada sekutu, Bangsa Indonesia tak lama kemudian menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini membuat semangat rakyat Indonesia kemudian menjadi semakin menyala-nyala. Perkumpulan dan organisasi pemuda maupun pejuang didirikan diberbagai daerah, tak terkecuali di Sanga-Sanga.

Pada saat tentara Australia dan sekutu menduduki wilayah Kalimantan Timur, terutama di Sangasanga, perkumpulan pemuda dan rakyat diperbolehkan untuk memakai atribut merah putih di dadanya. Tidak hanya itu, mereka bahkan diizinkan untuk mengibarkan bendera merah putih pada saat itu.

Para tentara juga sering kali memberikan bantuan kepada pemuda-pemuda, baik berupa materi maupun moril. Sehingga hubungan baik antara para pemuda dengan para tentara sekutu dan Australia pun terjalin dengan baik.

Namun hal nya dengan tentara NICA (Belanda) yang pada saat itu menebeng kepada tentara sekutu. Mereka memiliki kepentingan lain, yaitu mempertahankan koloninya agar tidak melepaskan diri, sehingga mereka tidak ingin para pemuda bangkit semangatnya dalam menegakkan kemerdekaan.

Setelah tentara sekutu (Australia) ditarik dari Kalimantan Timur, khususnya dari daerah Sangasanga, daerah tersebut lalu diserahkan kepada Tentara NICA. Tidak menunggu lama, semua kegiatan para pemuda dan rakyat akhirnya dilarang, bahkan banyak pemuda-pemuda yang ditangkap dan dipenjarakan oleh NICA di Sangasanga.

Hal itu membuat rakyat semakin kesal. Mereka kemudian mengadakan gerakan-gerakan bawah tanah dan mengadakan hubungan-hubungan dengan tentara KNIL yang memihak kepada para pejuang untuk memantapkan gerakan-gerakan perjuangan.

Hingga pejuang Sangasanga mengadakan rapat, lalu tercetuslah rencana untuk merebut gudang senjata Belanda. Rencana itu dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian tentara Belanda kepada berbagai keramaian kesenian daerah pada 26 Januari 1947 (Sumber lainnya mengatakan tanggal 27 Januari 1947).

Peristiwa Merah Putih terjadi

Dini hari pukul 03.00 wita, ketika Tentara Belanda sedang lengah, pejuang membagikan senjata dan amunisi untuk merebut kekuasaan. Pukul 09.00 wita kota Sangasanga berhasil dikuasai pejuang, ditandai dengan diturunkannya bendera Belanda di Sangasanga Muara oleh La Hasan. Seperti kejadian di Hotel Yamato Surabaya, bendera Belanda disobek bagian birunya dan dinaikan kembali oleh pejuang.

Jatuhnya Sanga-Sanga ke tangan Pejuang kemudian dilaporkan tentara KNIL ke markas Belanda di Samarinda. 28 Januari 1947, Rakyat Sanga-Sanga melakukan perlawan kepada Belanda. Belanda ingin membumi hanguskan Sanga-Sanga, mereka juga menarik pasukannya dari Balikpapan, Tarakan, dan bahkan Banjarmasin untuk dikirimkan ke Sanga-Sanga. Rakyat Sanga-Sanga kemudian melakukan perjuangan selama 3 hari melawan tentara Belanda yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap.

Meski banyak yang gugur dan tertangkap akibat peristiwa ini, semangat juang tak pernah padam. Gerakan perlawan dan sabotase terhadap pendudukan pasukan belanda terus dilakukan, walaupun tidak sebesar sebelumnya. Perlawanan rakyat Sanga-Sanga itulah yang disebut sebagai Peristiwa Merah Putih.

Referensi
  • Dispar.kutaikartanegarakab.go.id. n.d. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegaragara. [Accessed 29 January 2021].
  • Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Kutai Kartanegara. n.d. Sejarah Singkat Peristiwa Merah Putih Sangasanga.[Accessed 29 January 2021].
Total
7
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post
Foto Keluarga Tsar Romanov, keluarga Tsar yang dieksekusi

Eksekusi Keluarga Romanov, Akhir Dari Kekaisaran Rusia

Next Post
Perdebatan imajiner antara Averroes dan filsuf abad ketiga Porphyry. Averroes merupakan salah satu tokoh berpengaruh pada sejarah ilmu kesehatan di dunia.

Sejarah Ilmu Kesehatan Dunia, Beserta Periodenya

Related Posts
Total
7
Share