Ilustrasi Borobudur

Pengeboman Borobudur, Jejak Ekstremis di Indonesia

21 Januari 1985, pukul 01.20 WIB, Dua orang petugas keamanan meninggalkan posnya untuk berpatroli mengelilingi Candi Borobudur. Berselang 10 menit, suara ledakan yang menggelegar membuat mereka terkejut. Sontak mereka berlari ke arah sumber suara, kembali terdengar ledakan lainnya. Pengeboman Borobudur terjadi, disebabkan oleh sekelompok ekstremis yang memiliki beberapa asalan untuk melakukannya.

Latar Belakang Pengeboman

Seperti diketahui, pada zaman Orde Baru konflik antara islam dan negara sering kali terjadi. Hal ini terjadi akibat masalah ideologi dan pandangan politik. Orde Baru menggunakan 3 strategi untuk mengurangi pengaruh Islam di dalam politik. Pertama, menghancurkan pengaruh anggota politik Masyumi. Kedua, penyederhanaan struktur partai dengan menggabungkan partai-partai Islam ke dalam satu partai saja. Ketiga, mendorong perkembangan institusi-institusi keagamaan melalui perbaikan departemen agama (KARIM, M. Rusli, 1999.)

Selanjutnya, Rezim Orde Baru juga mengeluarkan kebijakan asas tunggal untuk memperkuat kedudukan ideologi negara. Pada tahun 1982, Presiden Soeharto mengeluarkan isu pergantian asas bagi partai politik dan organisasi kemasyarakatan (Ormas). Rencana pemerintah untuk menjadikan Pancasila sebagi asas tunggal merupakan keinginan Presiden Soeharto dan didukung oleh hasil seminar II Angkatan Darat pada tanggal 2 April 1981 dan pidato-pidato kepresidenan antara lain tanggal 16 Agustus 1982 dan 01 Oktober 1982.

Pada 1984, terjadi kekacauan politik. Salah satu akibatnya adalah Insiden Tanjung Priok, yang lagi-lagi merupakan konflik antara umat islam dan negara. Insiden ini lagi-lagi buntut akibat penolakan terhadap asas tunggal yang diserukan oleh seorang ulama Islam Abdul Qodir Jaelani di Masjid As Saadah. Buntut panjang membuat mereka berdemonstrasi, yang akhirnya membuat para demonstran ditembaki (“Peristiwa Tanjung Priok”, n.d.).

Insiden ini membuat banyak kalangan geram, termasuk Ikwanul Muslimin yang dibentuk oleh Husein dan Ibrahim. Mereka bekerjasama untuk melakukan balas dendam berupa teror. Sasaran mereka adalah gereja, karena dianggap bersekutu dengan Soeharto yang menindas umat Islam.

Rasa dendam berawal ketika pemerintah melakukan konferensi pers diwakili Pangab/Pangkopkamtib Jendral L.B. Moerdani yang menyatakan bahwa kerusuan tersebut sudah dapat diatasi dan menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan jangan terpancing. Pada konferensi pers tersebut terlihat upaya pemerintah khususnya aparat keamanan untuk menutupi insiden tersebut dan agar terlihat dan terkesan sebagai insiden kecil saja (Pratama, Sodiq & Suryadi, 2019).

Setelah gereja, sasaran mereka selanjutnya adalah Candi Borobudur. Saat itu Borobudur baru berusia 2 tahun sejak rampung dipugar pemerintah. Pemerintah juga menjadikan Borobudur sebagai monumen nasional. Kedua hal yang dilakukan pemerintah tersebut dianggap sebagai lambang pemujaan berhala yang sengaja dilakukan untuk menyaingi ‘kemurnian’ islam (Pratama, Sodiq & Suryadi, 2019). Alasan lainnya adalah saat itu Candi Borobudur akan ‘dibisniskan’ oleh Titiek Soeharto, yang tentunya sudah mendapat persetujuan dari Menteri Parpostel (Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi)(Solahudin, 2011: 189).

Melakukan Pengeboman Borobudur

21 Januari 1985, pada pukul 20.00 WIB, Ibrahim bersama Achmad tiba di atas Candi Borobudur. Mereka menaruh bom-bom tersebut di stupa-stupa. Lokasi yang ditaruh bom antara lain di teras atas sebanyak empat buah bom, teras II sebanyak lima buah bom, dan teras III sebanyak empat buah bom (Berita Acara Lanjutan Achmad Muladawila, 10 Februari 1986).

Total bom yang mereka pasang sebanyak 13 buah. Mereka juga membawa kembali sebuah bom yang macet.

Pukul 01.30 WIB, suara ledakan yang pertama terdengar. Total 9 ledakan terdengar, rangkaian ledakan akhirnya berakhir pukul 03.40 WIB. Dengan suasana yang gelap gulita, petugas keamanan pun masih belum dapat memastikan suara apakah tadi itu. Mereka akhirnya menunggu aparat datang untung mencari tahu apa yang persisnya terjadi.

Petugas Garnisun Magelang tiba di lokasi sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menyisir kawasan candi. Mereka melihat batu-batu candi berserakan yang terlihat dengan jelas bahwa kejadian ini memang disengaja.

Dari 13 Bom yang dipasang Ibrahim Jawad dan Achmad Muladawila, hanya 9 yang meledak. Dua bom lainnya berhasil ditemukan serta dijinakan, dua lainnya baru berhasil ditemukan pada 15 Februari.

Penanganan Kasus ini segera dilakukan pemerintah. Berita tentang peristiwa ini tak hanya menjadi headline di media nasional, bahkan media internasional pun ikut menyorot kasus ini.

“Ibrahim” alias Mohammad Jawad alias “Kresna” yang disebut sebagai dalang pengeboman adalah otak peristiwa pengeboman ini. Namun Ibrahim tidak berhasil ditangkap, dari jurnal karya Pratama, Sodiq & Suryadi, 2019 menyebutkan bahwa berdasarkan beberapa pelaku lainnya, Ibrahim berhasil kabur keluar negeri, yaitu ke Iran.

Setelah penyelidikan, polisi Indonesia menangkap dua bersaudara Abdulkadir bin Ali Alhabsyi dan Husein bin Ali Alhabsyi yang dituding sebagai pelaku peledakan Candi Borobudur ini.

Referensi dan Sitasi
  • KARIM, M. Rusli. (1999.). Negara dan peminggiran Islam politik : suatu kajian mengenai implikasi kebujakan pembangunan bagi keberadaan “Islam Politik” di Indonesia era 1970-an dan 1980-an. Yogyakarta : Tiara Wacana.
  • Feiliard, Andree. 2008. NU Vis-a-Vis Negara. Yogyakarta: LKIS
  • Peristiwa Tanjung Priok. Diakses pada 21 Januari 2021, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Tanjung_Priok
  • Junge, J. Fabian (2008). Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi. Pengadilan HAM Ad Hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984 (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: KontraS / Watch Indonesia!.
  • “Victims report to UN special rapporteur”. The Jakarta Post. 11 September 2009.
  • Pratama, A., Sodiq, I., & Suryadi, A. (2019). Sejarah Pengeboman Candi Borobudur Tahun 1985: Tinjauan Sejarah Sosial Politik di Indonesia. Journal Of Indonesian History, 8(2). doi: 10.15294/jih.v8i2
  • Teror Candi Borobudur, Misteri Ledakan 9 Bom di Pagi Buta. (2021). Retrieved 22 January 2021, from https://www.liputan6.com/news/read/3873235/teror-candi-borobudur-misteri-ledakan-9-bom-di-pagi-buta
Total
9
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post
Ilustrasi Baitul Hikmah (Maqamat_hariri)

Baitul Hikmah, Perpusatakaan Sekelas Alexandria yang Berakhir Tragis

Next Post
Foto Keluarga Tsar Romanov, keluarga Tsar yang dieksekusi

Eksekusi Keluarga Romanov, Akhir Dari Kekaisaran Rusia

Related Posts
Total
9
Share