Brigadir Mallaby dan Peristiwa 10 November

Mobil Yang Terbakar Di Tempat Mallaby Tewas

Sebagai pemenang, Pasukan Sekutu datang ke Indonesia. Tugas mereka untuk melucuti tentara Jepang di Indonesia (sesuai dengan isi Perjanjian Yalta) serta membebaskan pasukan sekutu yang ditawan, termasuk tentara Belanda.

Sebelum sekutu datang, Pejuang Indonesia sudah lebih dulu mengamankan senjata milik tentara Jepang. Pasukan sekutu tentu tidak menyukai hal ini. Dalam pandangan mereka, merekalah yang berhak atas segala senjata milik tentara Jepang, mengingat mereka adalah pemenang perang.

Militer Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha di bawah kepemimpinan Brigadir Mallaby, yang berisikan Indian Army, tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Saat itu, mereka membebaskan tentara Belanda yang ditawan jepang, serta melucuti Pejuang yang telah mengambil senjata milik jepang. Hal ini tentunya membuat marah marah para pejuang.

Segara, Mallaby dan pasukannya pun terjebak dalam masalah. Ditambah lagi dengan militer Inggris yang sudah main lucut senjata yang membuat pemuda Surabaya ngamuk. Surabaya pun akhirnya panas. Terjadi pertempuran selama tiga hari antara Brigade 49 dengan pejuang republik dari berbagai elemen.[1]

Akibatnya, 3 hari selanjutnya disebutkan bagaikan neraka, pejuang tidak menghiraukan jumlah korban yang jatuh, Setia pos militer Inggris pun mereka serang. Hal itu menyebabkan pemimpin militer Inggris di Jakarta, Mayor Jenderal Howthorn, mengajak berunding para pimpinan Republik, dengan harapan wibawa Presiden Soekarno bisa menenangkan Rakyat Surabaya.

Setelah kedatangan Presiden Sukarno dan pejabat lain di Surabaya, terbentuklah biro khusus yang dapat menjadi kontak yang menengahi konflik antara militer Inggris dan pemuda Surabaya.[1]

Mallaby keliling Surabaya dengan bendera putih
sumber gambar: surabaya.tribunnews.com

Namun naas, pada tanggal 30 Oktober 1945, Brigadir Mallaby tewas. Saat itu, ia sedang melakukan perjalanan keliling Surabaya dengan bendera putih untuk menyebarkan berita tentang perjanjian gencatan senjata. Ketika mobilnya mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio dekat Jembatan Merah, mobilnya dikepung oleh pejuang Republik.

Pasukan Inggris yang berada di gedung Internatio melihat hal itu kemudian khawatir komandan mereka akan diserang. Dipimpin oleh Mayor Venu K. Gopal, mereka mulai menembak ke udara untuk membubarkan massa.

Kesalah pahaman pun terjadi, para pejuang republik mengira pasukan inggris mengambil tindakan menyerang, sehingga mereka pun balas menembak ke arah Pasukan Inggris.

Kapten RC Smith, yang berada di dalam mobil stasioner, melaporkan bahwa seorang pemuda Republik menembak dan membunuh Mallaby setelah melakukan percakapan singkat. Smith kemudian melaporkan telah melempar granat ke arah yang menurutnya sebagai tempat bersembunyinya penembak. Meskipun dia tidak yakin apakah itu mengenai targetnya atau tidak, hal itu menyebabkan jok belakang mobil meledak.[2] Catatan lain, menurut sumber yang sama, menyatakan bahwa ledakan (dan bukan penembak) yang menewaskan Mallaby.[2]

Kematian Mallaby menyebabkan Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.

Catatan Kaki

[1] Tirto.id, Tewasnya Jenderal Mallaby yang Memicu Pertempuran 10 November 1945
[2] Parrott 1975, p. 75.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post
Presiden Soekarno di Mustamar Masjumi

Sejarah Masyumi, Dari Organisasi Hingga Partai Politik

Related Posts
Total
0
Share